Kisah Mochtar Riady, Pendiri Lippo Group yang Pernah jadi Penjaga Toko dan Penjual Sepeda

Kisah Mochtar Riady, Pendiri Lippo Group yang Pernah jadi Penjaga Toko dan Penjual Sepeda

trendingtopic.co.id – JAKARTA – Keluarga Mochtar Riady kini tengah jadi sorotan. Lantaran, anak usaha Keluarga Riady, PT Inti Anugerah Pratama yang tercatat sebagai pengendali saham PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) tercatat melepas saham emiten properti tersebut dan setidaknya mengantongi hasil penjualan saham sebesar Rp193,75 miliar.

Meski, saat ini bisnis keluarga Riady telah dijalankan oleh generasi ketiga. Namun, sosok Mochtar Riady tidak lepas dari pengamatan publik.

Pasalnya, Mochtar Riady merupakan sosok pendiri yang mengawali cikal bakal dari Grup Lippo. Bahkan, dirinya masuk ke dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes dengan kekayaan per Januari 2023 mencapai US$1,4 miliar atau setara dengan Rp21,9 triliun.

Melansir dari Lippo Group, dengan grup bisnisnya yang terdiversifikasi, nyatanya awal mula kesuksesannya ini ketika Mochtar Riady menjadi penjaga toko.

Lantas, seperti apa sosok dari pendiri Mochtar Riady? Berikut ulasan Bisnis selengkapnya.

Kehidupan Awal Mochtar Riady

Mochtar Riady lahir pada 12 Mei 1929 di Malang, Jawa Timur. Dia mengakui bahwa hidupnya sangat terbatas, bahkan punya nasib yang sangat malang.

“Waktu saya usia 9 tahun, ibu meninggal dunia dan usia 11 tahun ketika Perang Dunia meletus lalu, ada suatu peristiwa penangkapan, di mana Ayah dan Paman saya ditangkap oleh tentara Jepang. Jadi, usia 11 tahun itu, saya hidup tidak ada Mama dan Papa,” ungkapnya dilansir dari Youtube Mochtar Riady Manusia Ide, Jumat (6/1/2023).

Alhasil, karena tidak adanya bimbingan dari orang dewasa ketika berusia 11 tahun, membuat Mochtar menjadi penjudi kecil akibat terbawa lingkungan sekitarnya.

Lalu, saat dirinya mengalami banyak kekalahan dan tidak mampu membayar, dia pun memutuskan untuk mengadukan permasalahannya kepada sang Kepala Sekolah, Pak Lo.

Akhirnya, berkat saran dari saran Kepsek untuk berani tegas kepada penipu. Mochtar pun memutuskan pulang ke rumah dan bertindak dengan mengatakan bahwa dia akan mengancam akan melaporkan kepada polisi, jika orang tersebut masih akan mendatangi Mochtar.

“Jadi ini adalah sesuatu yang saya sebut sebagai pelajaran melalui penderitaan,” ujarnya.

Baginya, sang Ayah sangatlah setia dengan Ibunya. Terbukti, kala itu sang Ayah memutuskan untuk tidak menikah lagi, meski umurnya masih muda, yakni sekitar 40 tahun.

“Beliau sangat perhatian pada saya. Kalau saya kembali dr sekolah, saya selalu ditanya soal bagaimana pelajaran. Setiap hari dibacakan buku, diajarkan bahasa Mandarin, dan menuliskan surat untuk keluarga mereka di China, Xinghua, Fujian. Sehingga, saya punya kemampuan menulis yang baik,” ungkapnya.

Namun, sekembalinya sang Ayah dari penangkapan Jepang kala itu, ternyata tindakan Mochtar yang berjudi serta sempat memainkan lotre pun diketahui oleh Ayahnya.

“Setelah saya mengalami kekalahan judi. Hal tersebut masih membuat penasaran saya, jadi pada suatu saat saya denger kalau membeli lotre bisa jadi orang kaya. Saya pun mencoba. Tapi, hal itu diketahui oleh Ayah akhirnya dirampas dan disobeklah lotre itu,” jelas Mochtar Riady.

Ayahnya mengatakan untuk bisa mendapatkan uang, maka seseorang harus mengandalkan usaha, Tanpa keringat, uang tidak bisa didapat.

Dari sana, akhirnya Mochtar tersadar hingga akhirnya punya cita-cita menjadi bankir, lantaran terpesona dengan tampilan petugas Nederlandsche Handels Bank yang berada di gedung-gedung megah bergaya Eropa saat dirinya pergi ke sekolah.

Sebagai informasi, Mochtar Riady pernah dipulangkan ke China oleh Pemerintah Belanda. Di China, Mochtar Riady kuliah di University of Nangking. Sayangnya kuliah itu selesai terjadi perang di Nanking. Hingga akhirnya, Mochtar Riady kembali ke Indonesia pada tahun 1950-an.

Pernah Jadi Penjaga Toko

Barulah setelah menyelesaikan pendidikannya. dia pun punya ketertarikan besar untuk bisa mewujudkan mimpinya menjadi seorang bankir.

Tapi, ternyata ketika dirinya telah menyelesaikan kuliah di University of Nangking, sang Ayah sempat tidak setuju. Sebab, menurutnya bank hanya bisa diisi oleh orang yang punya uang.

Sehingga, alih-alih mengejar cita-citanya, Mochtar Riady diminta Ayahnya untuk menjaga toko. Berkat, tangan besinya, maka hanya dalam waktu tiga tahun, toko kecil tersebut berkembang pesat dan menjadi toko terbesar di Jember.

Merantau ke Jakarta di Usia Muda

Meski begitu, dirinya masih punya hasrat untuk menjemput mimpinya, pada usia 21 tahun dia pun memutuskan untuk merantau ke Jakarta.

Sesampainya di sana, ternyata kesempatan menjadi pegawai bank tak langsung datang. Terlebih, melakukan kegiatan bisnis di zaman demokrasi liberal (1950-1959) bukan hal mudah bagi para keturunan Tionghoa. Mochtar Riady akhirnya tetap memutuskan untuk berbisnis sepeda dan tetap punya keinginan bekerja kantoran sebagai pegawai bank.

Pada tahun 1959, pertemuannya dengan Andi Gappa, yang merupakan pemilik Bank Kemakmuran tersebut akhirnya membuat nasibnya sedikit demi sedikit berubah ke arah yang lebih baik. Di mana, Andi Gappa mengajak Mochtar Riady bergabung sebagai mitra usaha.

Usai dua tahun berkarier, dia pun memberanikan diri membuka Bank Buana yang kini telah berganti nama menjadi Bank UOB Indonesia. Bank ini sukses dengan menggandeng banyak mitra.

Alhasil, bisnis perbankannya terus melesat terbukti, Mochtar Riady dapat mengelola banyak bank besar di Indonesia, seperti Bank Panin, BCA hingga CIMB Niaga. Adapula, Bank National Nobu (Nobu Bank) yang telah hadir lebih dari 20 tahun di industri perbankan Indonesia. Fokusnya adalah pada peningkatan kompetensi Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Sejak itulah kesuksesannya dimulai. Mochtar pun kian memperluas sayap bisnisnya dengan membuka lini bisnis lainnya,

Kini, dengan aksi korporasi yang tertata rapi, Lippo Group tumbuh secara eksponensial menjadi kerajaan bisnis yang luas, dan juga dapat beroperasi di berbagai negara.

Melansir dari situs perusahaan, Lippo Group telah bergerak, di bidang properti, ritel, TTM (teknologi, telekomunikasi, dan multimedia), pendidikan, kesehatan, serta keuangan.

Selain di Indonesia, Lippo juga beroperasi di sembilan negara. Berpusat di Singapura, Lippo International antara lain beroperasi di Tiongkok, Hong Kong, AS, dan Myanmar. Di Singapura, Lippo memiliki 100 klinik yang melayani 1,4 juta orang. Lippo juga sudah membangun empat rumah sakit di Myanmar dan sedang menjajaki pembangunan rumah sakit di Vietnam.

error: Content is protected !!