Facebook dan IG Berdarah-darah, TikTok Kok Tetap Cuan?

Facebook dan IG Berdarah-darah, TikTok Kok Tetap Cuan?

trendingtopic.co.idJakarta, CNBC Indonesia – TikTok menawarkan harga pemasangan iklan (advertising rates) yang jauh lebih murah dibandingkan media sosial lain. Strategi tersebut untuk meningkatkan daya saing di tengah melambatnya pertumbuhan belanja online (online spending).

Hal ini merupakan ancaman baru bagi Facebook, Instagram, Twitter, hingga Snap. Beberapa pihak dari industri periklanan mengaku telah memindahkan budget pemasangan iklan mereka dari Facebook dan Intragram ke TikTok, dikutip dari Financial Times, Rabu (11/1/2023).

“Banyak sekali mitra brand kami dulu 100 persen (beriklan) di Instagram,” kata Permele Doyle, pendiri sekaligus presiden direktur di agensi kreatif Billion Dollar Boy.

“Sekarang di 2023, sekitar 80 sampai 100 persen iklan klien kami ada di TikTok,” ia menambahkan.

TikTok memang telah menggemparkan industri media sosial sejak beberapa tahun terakhir, dengan pertumbuhan signifikan mencapai 1 miliar pengguna di seluruh dunia.

Sejak 2019, aplikasi berbagi video pendek tersebut mulai membuka pemasangan iklan dengan harga relatif rendah. Alhasil, ketika budget pemasaran dari brand sedang tipis, TikTok menjadi tujuan untuk mempromosikan barang atau jasa mereka.

Pada 2022 lalu, analisa VaynerMedia menunjukkan perbandingan biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapat 1.000 impression.

TikTok adalah yang paling murah atau setengah dari biaya di Instagram Reels, sepertiga dari biaya di Twitter, dan 62 persen lebih murah dari biaya iklan di Snapchat.

TikTok tetap Cuan

Sejumlah raksasa teknologi, seperti Facebook hingga Snap, mengalami penurunan pendapatan online selama 2022. Namun, hal berbeda terjadi pada Tiktok yang tetap cuan besar tahun lalu.

FT mencatat bulan November sebenarnya Tiktok memangkas target pendapatan globalnya sebesar 20 persen. Alasan pemotongan itu karena lingkungan iklan tengah mengalami goncangan.

Namun saat itu, perusahaan tetap optimis mengantongi penghasilan lebih dari US$10 miliar (Rp 155 triliun) pada tahun 2022.

Menurut kepala eksekutif agen pemasaran digital Blue Wheel Media, Eitan Reshef, Tiktok masih bisa menjaga kemampuan memperoleh pengguna baru dalam platform mereka. “Ada sebongkah emas [dalam beriklan di Tiktok]…berdasarkan kemampuan memperoleh pengguna baru, ini adalah peningkatan yang meroket,” jelasnya dikutip Rabu (11/1/2023).

Tingkat keterlibatan pengguna Tiktok sangat tinggi dibandingkan pesaingnya, yakni 6% berbanding 0,6% pada Instagram. Sebagai informasi tingkat keterlibatan pengguna adalah saat pengguna beraktivitas dalam platform seperti mengklik, menonton atau berinteraksi dengan konten iklan.

Di Tiktok, para pengiklan bisa membayar untuk promosi video mereka. Selain itu, mereka dapat membeli slot iklan yang tampil di antara video pengguna, membayar influencer membuat konten iklan atas nama pengiklan, hingga membuat tantangan hashtag dari sebuah brand.

Dengan kelebihan Tiktok, video yang beriklan di sana punya peluang lebih besar. Bahkan bisa menang lebih banyak dibandingkan platform lain dengan konsep video pendek yakni Reels dan Youtube Shorts.

Ini terlihat pada Studi Creatopy tahun lalu menyebutkan video iklan yang sama mendapatkan tiga kali lebih banyak impresi di Tiktok.

“Ada peluang besar bagi merek membuat iklan yang luar biasa di Tiktok berapapun anggarannya,” jelas manajer umum solusi bisnis global Tiktok, Kris Boger.

error: Content is protected !!