Efek Negatif Boba bagi Kesehatan Memicu Kekhawatiran Epidemi Obesitas

Efek Negatif Boba bagi Kesehatan Memicu Kekhawatiran Epidemi Obesitas

trendingtopic.co.id – Boba adalah topping atau campuran minuman berbentuk bola-bola yang terbuat dari tepung tapioka dan pewarna makanan. Boba biasanya dicampur dengan susu, teh, atau kopi.

Banyak yang menyukai boba karena rasanya yang manis dan kenyal serta membuat minuman jadi lebih segar. Profesor Zubairi Djoerban menerangkan, boba hanya memiliki sedikit manfaat bagi kesehatan.

Boba mengandung kalori dan karbohidrat yang bisa memberikan dorongan energi. Tetapi, kadar gula yang tinggi bisa menyebabkan gangguan kesehatan.

Melalui akun Instagram pribadinya, Zubairi menyebut teh, susu, dan kopi adalah minuman yang sehat tapi tidak sebanding dengan kadar gulanya.

Dia menyarankan untuk memesan minuman rendah atau tanpa gula jika ingin dicampur dengan boba . Memang, itu akan membuat minuman tidak senikmat biasanya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyarankan konsumsi gula maksimal 50 gram atau setara empat sendok makan per hari. Sementara, seporsi teh, susu, atau kopi dengan boba rata-rata mengandung lebih dari 50 gram gula.

Zubairi mencontohkan, seporsi minuman boba ditambah dua buah donat cokelat sudah menambah sekira 24 gram gula. Apalagi jika ditambah kandungan gula dari nasi, kentang, dan makanan lainnya.

Dia menerangkan, anjuran konsumsi gula dalam sehari itu 10 persen dari total energi (200 kkal) atau setara empat sendok makan (50 gram).

Penelitian dua tahun lalu oleh jurusan gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta menunjukkan, seporsi boba milk tea mencapai 352 kalori.

Berarti, dengan mengonsumsi seporsi boba milk tea tubuh sudah menerima 352 kalori atau lebih 100 kalori dari yang dianjurkan.

Menurut keterangan Zubairi, kalori akan diakumulasi jadi lemak. Kelebihan lemak dapat menyebabkan obesitas yang merupakan penyakit tidak menular kronis yang ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) >25 dan lingkar perut untuk ras Asia pria >90 dan perempuan >80.

IMT menentukan lemak tubuh dengan mengukur rasio antara berat dan tinggi badan seseorang.

Menurut data Kemenkes tahun 2018, satu dari tiga orang dewasa mengalami obesitas serta satu dari lima anak usia 5-12 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas .

Di beberapa negara, tingkat obesitas telah mencapai proporsi epidemi. Di Jerman, obesitas meningkatkan risiko penyakit penyerta seperti diabetes, kardiovaskular, dan kanker tertentu.

Untuk terhindar dari penyakit tersebut, Zubairi menganjurkan gaya hidup sehat dengan olahraga 150 menit per minggu, makan buah dan sayur, serta kurangi minuman dan makanan manis.***

error: Content is protected !!